RSS

Pengalaman kehamilan pertama

14 Apr

Pengalaman kehamilan pertama : divonis BO (blighted ovum)

Bulan Maret 2011, saat itu usiaku 33 tahun. Perkiraan kehamilanku minggu ke-10.

Aku periksa kandungan pertama kali pada minggu ke-7, 15 Februari, ke seorang DSOG perempuan di klinik dekat rumahku. DSOG melakukan pemeriksaan dengan USG abdomen (dari perut), saat itu dokter mengatakan makanku bagus sekali terlihat dari ukuran kantung bayi yg bagus, sungguh membuatku optimis! Dan selama kehamilan, aku sungguh menjaga makanan, banyak buah dan sayur serta menghindari junk food. Kalau mual aku berusaha tidak sampah muntah, supaya nutrisi makanan tetap terjada di badan demi calon bayiku.

Namun saat aku periksa kandungan minggu-10, 15 Maret, kunjungan kedua kali pada DSOG yg sama. Ternyata DSOG berat hati menyatakan aku blighted ovum (BO/hamil kosong). Rasanya tak percaya, karena selama ini aku tidak pernah merasakan keluhan, flek, apalagi pendarahan. Pernah sekali saja aku sakit perut itupun karena masuk angin lupa makan malam. DSOG saat itu langsung menyarankan membuat janji kapan dikuret, dan aku minta waktu berpikir seminggu lagi.

Nah, sambil menunggu kepastian utk dikuret, kalaupun dikuret aku tak ingin ada rasa bersalah/berdosa jika ternyata sebenarnya ada janin pada kandunganku. Maka aku segera mencari second opinion ke DSOG lain, dan periksalah aku ke seorang DSOG laki-laki di sebuah RS tanggal 18 Maret. Semula aku tak bilang cari second opinion, hanya bilang mau cek kehamilan. Awalnya DSOG inipun memeriksa dgn USG abdomen (dari perut), dan tampak spt BO lagi. Maka DSOG ini menawarkan periksa USG transvaginal, tentu aku langsung setuju utk periksa lebih detail lagi. Dibantu suster perempuan, aku dicek transvaginal cukup lama. DSOG lalu menemukan ada yolk sac dalam kantung gestasi. Kalau aku baca-baca di internet (How to Make Certain Your Blighted Ovum Is Not Misdiagnosed | eHow.com), diagnosa BO tidak dapat ditegakkan jika tampak yolk sac, karena embrio diperlukan untuk bisa melihat yolk sac. Seringkali, janin dpt menyusul muncul seminggu setelah tampak yolk sac. Dan, DSOG itupun tidak berani memvonis aku BO, beliaupun menyarankan menunggu seminggu atau sepuluh harian lagi untuk melihat perkembangan. Padahal, sementara itu DSOG ku yang pertama sudah menyarankanku kuret seminggu lagi.

Saat itu, ada harapan pada diriku untuk muncul keajaiban tumbuh janin dengan perkembangan signifikan dalam kandunganku dalam seminggu ini….apalagi mengingat usiaku sudah kepala tiga. Namun semua kukembalikan lagi pada keputusan terbaik Tuhan.

Dokter ke-2 ku tidak memvonis BO, tetapi beliau memberikan folavit dan obat penguat kandungan duphaston. Setelah 2 hari mengkonsumsi duphaston 2xsehari, esok paginya aku malah flek dan sedikit pendarahan spt mens, akhirnya esok harinya aku kembali ke dokter pertama dan beliau langsung ambil tindakan kuret untuk mencegah infeksi. Akhirnya, aku dikuret pada hari Selasa, 22 Maret 2011. Tak habis pikir, apakah flek itu akibat konsumsi duphaston atau pada dasarnya kandunganku lemah.. entahlah, ini mungkin memang takdir, aku ikhlas.. Sisa kuret aku hanya mengalami sisa pendarahan sehari saja, selanjutnya bersih, dan 4-5 hari kemudian muncul lagi sedikit darah selama seminggu, mudah-mudahan ini menstruasi pertama pasca kuret supaya aku bisa program hamil lagi, amiiiin.. do’akan aku, do’akan aku ya.

 
Leave a comment

Posted by on 04/14/2011 in Bunda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: